Tafsir Al-Mishbah: Hormati Orang Lain dengan Menjawab Salam

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


TAFSIR Al-Mishbah kali ini tiba pada pembahasan Al-Quran Surah Hud ayat 69-83.
Dalam ayat-ayat itu diceritakan mengenai kisah dua nabi sekaligus yakni, Nabi Ibrahim, yang gembira mendapatkan kabar dari Allah Swt bahwa bakal memiliki seorang putra, dan Nabi Luth, yang kaumnya mendapat azab karena ingkar kepada wahyu Allah.
Pada dasarnya kisah nabi-nabi Allah di dalam Al-Quran, kecuali kisah Nabi Yusuf, merupakan fragmen-fragmen kisah semata, agar kita bisa mengambil hikmah di dalamnya.
Seperti dalam ayat 69 tertulis, ‘Dan, sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim, dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: Kami memberi salam mohon kiranya penghuni rumah dilimpahi keselamatan.’
Kemudian Ibrahim menjawab: Selamatlah (saya berdoa semoga keselamatan itu mantap dan berkesinambungan untuk kamu semua).
Tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.
Jawaban Nabi Ibrahim tersebut menjelaskan tuntunan dari agama bila ada yang menghormati Anda dengan ucapan salam harus menjawab sama.
Terkait dengan makanan yang disuguhkan, dahulu makanan yang paling istimewa adalah yang dipanggang. Di sini dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim menghormati para tamunya.
Selanjutnya, pada ayat 70 diterangkan, ‘Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka.
Malaikat pun berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.’
Pesan di balik ayat ini adalah tuan rumah harus menghormati tamu dengan menghidangkan makanan. Sebaliknya, tamu menghormati tuan rumah dengan mencicipi makanan. Namun, di sini Nabi Ibrahim tidak tahu bahwa tamu yang datang itu adalah malaikat yang memang tidak makan dan minum.
Ayat lanjutannya, ayat 71, berbunyi, ‘Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Ya’qub.’
Kemudian, pada ayat 72 diterangkan, ‘Istrinya berkata: Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan sudah tua pula? Sesungguhnya, ini benar-benar suatu yang sangat aneh.’
Pada ayat itu, istri Nabi Ibrahim, Siti Sarah, menyatakan ketidakmampuan dirinya sebelum suaminya. Dalam ayat ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa menutupi aib suami ialah suatu keharusan seorang istri.
Kemudian jawaban Siti Sarah itu dibantah para malaikat yang mengingatkan kembali kepada kekuasaan Allah yang tidak terbatas.
Kemudian, pada ayat 74-76 dijelaskan, lantaran sadar tamunya malaikat, Nabi Ibrahim mendiskusikan kaum Nabi Luth yang saat itu mempraktikkan homoseksual. Malaikat itu pun diutus untuk memberi azab bagi kaum Luth.
Pada ayat 77-83 diterangkan azab yang dijatuhkan kepada kaum Nabi Luth itu tidak bisa lagi dihindari.
Saat malaikat mendiskusikan ihwal rencana Allah menurunkan azab bagi kaum Nabi Luth, Nabi Ibrahim, yang memiliki sifat pemaaf dan serba kasihan, meminta malaikat agar menangguhkan azab itu. Malaikat menjawab, ‘itu sudah ditetapkan Allah.’
Hingga azab itu diturunkan seperti tertuang pada ayat 82. ‘Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.’
Dari ayat-ayat itu, pelajaran yang dapat dipetik dalam dua kisah Nabi Allah adalah adab dalam kehidupan sehari-hari mengenai bagaimana cara Islam sebagai agama pemberi rahmat sekalian alam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menghormati orang lain, bahkan hal itu bisa dimulai dengan menjawab salam.
Pelajaran lainnya adalah ketentuan Allah tak bisa diganggu gugat sekalipun sesuatu itu tak mungkin bagi manusia. Sebabnya, hal itu bukan kendala sama sekali untuk diwujudkan Allah Swt.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Senin, 15 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Manusia Dilengkapi Potensi untuk Mengelola Bumi

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


TAFSIR Al-Mishbah kali ini masih membahas Al-Quran Surah (QS) Hud. Pada ayat-ayat sebelumnya telah diceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul Allah yang mendapat penentangan dari kaum mereka.
Pada Surah Hud ayat 61-68, Al-Quran berkisah tentang Nabi Shaleh yang diturunkan Allah kepada kaum Tsamud untuk menyebarkan kebaikan dan mendakwahkan ajaran Allah.
Ayat 61 berbunyi: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”
Ayat itu menceritakan bahwa ajaran Nabi Shaleh tak berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya, yakni tentang tauhid (keesaan) Allah. Semua nabi mengajarkan kepercayaan akan adanya hari kemudian, kepercayaan pada pembawa pesan Allah yakni para nabi dan rasul, juga mengajarkan adanya malaikat. Itu semua merupakan rukun iman yang sama pada setiap generasi nabi.
Dalam ayat itu pula Nabi Shaleh menekankan manusia menyembah Allah dan beribadah kepada Allah. Ia mengatakan Allah itu yang menciptakan manusia dari bumi. Banyak ulama mengartikan kata bumi dengan tanah. Asal mula manusia itu dari tanah.
Perihal makna muasal tersebut ada yang lantas lebih memerinci dan menyatakan bahwa manusia itu lahir dari pertemuan antara sperma dan ovum. Sperma dan ovum itu terbentuk melalui makanan kita, daging dari hewan maupun makanan dari tumbuhan. Hewan yang dagingnya dimakan manusia juga mendapatkan makanannya dari tumbuhan. Itu sebabnya, kata para pakar, kalau diamati, unsur-unsur manusia sebenarnya mengandung semua unsur tanah. Sebaliknya, unsur-unsur yang ada pada tanah juga ada pada manusia.
Pesan selanjutnya yakni Allah menugaskan manusia untuk memakmurkan bumi. Sejak dulu, tujuan Allah menciptakan manusia ialah untuk memakmurkan bumi. Makna memakmurkan bumi yakni mengolahnya sehingga manusia bisa hidup nyaman di bumi.
Allah ketika menugaskan seseorang atau satu makhluk, pasti makhluk itu telah dianugerahi potensi agar mampu melaksanakan tugasnya. Nah, ketika Allah menugaskan manusia untuk memakmurkan bumi, Allah sudah membekali manusia dengan potensi yang sesuai dengan tujuan-Nya.
Itu sebabnya ketika para malaikat bertanya kenapa bukan mereka yang ditugaskan ke bumi, itu karena malaikat tidak diberi potensi.
Manusialah yang diberi potensi. Potensi itu antara lain punya inisiatif. Sementara malaikat hanya mengerjakan apa yang diperintah Allah. Manusia memiliki inisiatif untuk mengawinkan tumbuhan, misalnya, supaya jenis tumbuhan semakin berlimpah. Malaikat tidak memiliki inisiatif untuk itu.
Potensi manusia lainnya ialah akal serta pengalaman. Adam di surga mendapat pengalaman yang diwariskan kepada generasi-generasi sesudah Adam. Karena itu, kita memiliki pengetahuan bahwa di surga segala kebutuhan Adam terpenuhi. Itu pengalaman yang dianugerahkan Allah kepada manusia sebelum diterjunkan ke bumi.
Jauh sebelum Allah menciptakan manusia, Allah sudah menyatakan pada malaikat, “Saya akan menciptakan makhluk yang tugasnya di bumi untuk memakmurkan bumi.” Namun sebelum Adam turun ke bumi, ia transit di surga. Tujuannya supaya memperoleh pengalaman dan bisa membentuk bayang-bayang surga di bumi.
Menurut para malaikat, karena manusia memiliki inisiatif maka manusia pastilah rentan berbuat kesalahan. Sebelum manusia diciptakan, malaikat bertanya, “Untuk apa menciptakan makhluk yang nanti akan melakukan kesalahan.” Allah menjawab, “Saya tahu apa yang kamu tidak tahu.”

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Minggu, 14 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Permohonan Ampun Membuka Celah Rezeki

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


PEMBAHASAN Tafsir Al-Misbah kali ini tentang Surah Hud ayat 50-60. Nabi Hud as hidup sekitar 2.400 atau 2.300 SM. Allah Swt mengutus dia ke Arab Selatan (sekarang Yaman). Kuburan Nabi Hud pun masih ada, yang berarti secara nyata Nabi Hud benar-benar ada.
Nabi Hud diutus untuk kaum yang saat itu amat kuat kedudukannya di dunia, yakni kaum ‘Ad. Dalam Al-Quran Surah Hud ayat 50, Allah berfi rman, ‘Dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Hud’.
Nabi Hud pun berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanya mengada-adakan saja’. (QS 11:50)
Di sini saudara dalam Al-Quran artinya memiliki persamaan dengan mereka. Dengan kata lain, persamaan Nabi Hud dengan kaum ‘Ad tersebut adalah saudara sesuku. Nabi Hud mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah. Namun, arti ibadah di sini ada dua, yakni ibadah murni dan tidak murni.
Ibadah murni adalah ibadah yang ditentukan waktu dan bilangannya oleh Allah. Adapun ibadah tidak murni adalah apa saja yang kita niatkan karena Allah.
Dalam ayat berikutnya, ayat 51, Nabi Hud menyatakan bahwa dirinya tidak menuntut apa pun dari kaumnya karena meyakini Allah, Sang Pencipta yang akan menggembalanya.
Dalam ayat 52 dijelaskan bahwa Nabi Hud memberi jalan bagi kaum ‘Ad untuk mendapat pengampunan Allah. Ayat tersebut berbunyi, ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu berusahalah agar dosamu juga hilang. Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’. (QS 11:52)
Arti memohon ampun atau istigfar adalah memohon agar Allah menutupi dosa-dosa dan menghilangkan kesalahan kita sebagai hambanya.
Namun, tidak selesai sampai di situ saja, perbuatan dosa tersebut harus ditebus dengan pertobatan. Misalnya, yang telah berbohong harus jujur dan jika mencuri harus mengembalikan apa yang dicuri. Intinya selalu berkomitmen untuk berbuat baik, jangan hanya pertobatan di mulut saja.
Pendek kata, istigfar itu adalah upaya penebusan dosa dengan pertolongan Allah. Pertobatan itu merupakan usaha manusia untuk menebus dosa dan memperbaiki diri. Adapun penurunan hujan itu bisa jadi karena kaum ‘Ad adalah bangsa petani atau sebagai representasi dari rahmat.
Ayat ini di antara ayat lainnya mengaitkan pemberian ampunan dari Allah dengan datangnya rezeki.
Secara logis orang yang berdosa itu memang gelisah, tetapi kalau dosanya hilang dia tenang. Dengan pikirantenang, ia akan mudah mengerjakan segala sesuatu sehingga mudah mendatangkan rezeki.
Namun, kaum ‘Ad tidak menerima ajakan itu karena Nabi Hud dinilai tidak memperlihatkan bukti nyata. Bahkan, mereka merasa Nabi Hud telah ditimpa kutukan oleh para tuhan berhala mereka dengan penyakit gila. Sanggahan kaum ‘Ad tersebut disebutkan dalam ayat 53 dan 54.
Setelah lama bersanggah-sanggahan dengan kaum yang ingkar tersebut, Nabi Hud akhirnya menjawab, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ (QS 11:54)

Kembalikan kepada Allah
Jawaban Nabi Hud itu semata merupakan cermin tanggung jawab sebagai pembawa wahyu Allah yang telah sedemikian sering menyampaikan kebaikan. Namun, ia tetap tidak mendapat respons dan meraih keingkaran.

Ia pun mengembalikan semua hal itu kepada Allah. Nabi Hud bahkan dengan berani menantang kaum ‘Ad untuk mencelakai dirinya karena Nabi telah bertawakal dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, tuhan sekalian alam dan juga pemelihara sekalian alam.
Pernyataan tersebut disebutkan pada ayat 55-57. Dalam ayat 56-57, Nabi Hud bahkan menjelaskan bahwa tidak ada isi semesta di luar jangkauan Allah. Namun, bukan dengan kekuasaan tersebut, Allah menjadi sewenang-wenang.
Justru sebaliknya, Allah senantiasa berada di jalan lurus atau senantiasa berlaku adil. Kalau Dia jatuhkan siksa, itu merupakan buah dari perbuatan manusia itu sendiri, bukan Allah.
Ayat selanjutnya berbunyi, ‘Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat’. (QS 11:58).
Dalam ayat ini, kata selamatkan muncul dua kali. Para ulama berpendapat sesungguhnya Allah lebih banyak memberikan rahmat dan keselamatan di muka bumi ketimbang azab.
Ayat 59 dan 60 menjelaskan bahwa kaum ‘Ad dimusnahkan Allah dan diganti dengan kaum yang baru. Begitulah kutukan bagi kaum yang ingkar dan hendaknya kita bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Sabtu, 13 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Bersabar dalam Menyiarkan Kebaikan

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Qur'an yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


TAFSIR Al-Mishbah kali ini membahas surah Hud ayat 36-49. Surah ini berkisah tentang kaum Nabi Nuh AS yang tetap ingkar. Namun, ada juga yang beriman secara tulus dan menjadi pengikut setia Nabi Nuh.
Kaum yang ingkar menganggap hanya orang-orang terpinggirkan yang pantas menjadi pengikut Nabi Nuh. Padahal, tidak pernah ada perbedaan kelas juga paksaan dalam beragama.
Meski demikian, Nabi Nuh tidak merasa berputus asa dalam berdakwah. Justru Allah Swt yang menegaskan sudah tidak ada harapan bagi kaum Nuh yang ingkar untuk mendapatkan hidayah. Ketegasan tersebut diwahyukan Allah dalam Surah Hud ayat 36 yang berbunyi, “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu, janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”
Jangan pernah berputus asa dalam mengajak orang menuju kebaikan, kecuali orang tersebut terbukti memang tidak bisa lagi diajak menuju kebaikan, seperti Nabi Nuh yang tidak berputus asa terhadap kaumnya.
Nabi Nuh malah merasa sedih dengan pilihan kaumnya untuk tetap menjadi kafir. Maka, Allah menghibur dengan kalimat, “Janganlah kamu bersedih atas apa yang mereka kerjakan.”
Setelah dihibur seperti itu oleh Allah, Nabi Nuh berdoa agar kaumnya yang ingkar tersebut dimusnahkan karena mereka akan melahirkan keturunan-keturunan yang ingkar di masa mendatang.
Sebagai jawaban atas doa tersebut, Allah langsung memberikan perintah cukup teknis, agar Nabi Nuh membangun bahtera. Wahyu tersebut (QS 11:37) berbunyi, “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
Ayat selanjutnya (QS 11:38) berbunyi, “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)’.”

Azab Datang
Ayat selanjutnya ialah tentang akhlak yang baik, yaitu jika ada yang mengejek, seyogianya diam. Jikalau berulang-ulang, barulah bermohon agar Tuhan yang membalasnya. Dalam lanjutan ayat tersebut (QS 11:39), Nuh pun menjawab, “Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.”
Ayat 40-41 menyebutkan azab Allah benar-benar datang. Allah menurunkan air bah dari langit dan dari bawah bumi serta menenggelamkan kaum Nuh yang kafir. Orang-orang yang beriman kepada Allah selamat di dalam bahtera, termasuk sepasang hewan dan tumbuhan yang diperintahkan Allah agar diselamatkan oleh Nuh.
Di antara orang-orang yang ingkar tersebut ada anak kandung Nabi Nuh, yang termasuk ditenggelamkan oleh Allah. Hingga akhir banjir, Nuh mengajak anaknya masuk ke bahtera, tetapi si anak lebih memilih pergi ke gunung. Setelah itu, ia dihantam gelombang.
Dalam ayat tersebut jelaslah bahwa amalan seseorang tidak dilihat berdasarkan keturunannya. Pesan mengenai amalan tidak berdasarkan keturunan itu terpresentasi dalam Surah Hud ayat 42-47. Pada ayat 48 diceritakan, semua pengikut Nabi Nuh selamat dan memulai kehidupan baru.
Pada ayat ke-49, Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Itu di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik ialah bagi orang-orang yang bertakwa.”


Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Jumat, 12 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Jangan Remehkan Orang agar Kebaikan Datang

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Qur'an yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


PADA kesempatan ini, Tafsir Al-Mishbah mengupas Surah Hud ayat 25-35. Dalam ayat 25-35 itu dijelaskan salah satu cara Al-Qur'an memberikan pelajaran kepada umat manusia adalah dengan menampilkan kisah-kisah nabi.

Kisah-kisah itu sendiri, seperti dongeng, memiliki pengaruh luar biasa. Namun, di sini ditegaskan bahwa Al-Qur'an tidak menyampaikan dongeng. Akan tetapi, menyampaikan kisah untuk memberikan pelajaran serta hikmah kehidupan agar kisah itu berdampak baik, serta dicari penyebabnya dan diikuti. Namun, bila kisah itu buruk mesti dihindari dan dicari penyebabnya.

Kisah nabi itu tertera dalam ayat 25 Surah Hud bahwa Allah Swt mengutus Nabi Nuh untuk memberikan peringatan kepada kaumnya beserta umat manusia di sekitarnya.

Kemudian, ayat 26 menjelaskan, kaum Nuh tidak dibenarkan menyembah selain Allah Swt agar tidak ditimpa azabyang amat pedih(pada) hari akhir.

Ayat ini menerangkan, Nuh datang kepada kaumnya untuk menyampaikan peringatan, “Hendaklah kalian beribadah kepada Allah. Aku takut kalau kalian melanggar akan dijatuhkan siksa di hari yang sangat-sangat menyakitkan siksanya.”

Dalam ayat 27 dijelaskan, kaum Nabi Nuh menjawab peringatan Nuh, “Kamu juga kan manusia, seperti kita juga? Apa keistimewaan kamu?”

Nabi Nuh menjawab tantangan itu, “Wahai bangsaku. Seandainya aku mendapat bukti jelas dari Tuhanku bahwa aku dianugerahi rahmat dari Allah melalui anugerah yang memberikan nilai-nilai dan petunjuk-petunjuk, lalu hal itu disamarkan kepada kamu sehingga kamu tidak mau menerima itu.”

Kaum Nabi Nuh menjawab, “Apa kamu kira, kamu mau paksa kami agar kami menerima. Tidak.”

Melalui ayat itu digambarkan bahwa sejak kedatangan Nabi Nuh tidak ada paksaan dalam menganut agama. Nabi Nuh pun berkata, “Saya sudah dapat bukti dari Allah. Saya mendapat rahmat berupa bimbingan dari Allah. Namun, kalian tidak mengerti itu, tidak mau menerima itu, apa kalian duga bahwa kami mau paksa kalian, tidak.”

Nabi Nuh berkata demikian karena beragama adalah ketulusan. Jika orang dipaksa tentu akan tidak tulus. Tak ada gunanya beragama dipaksa atau diiming-imingi dengan sesuatu.

Ketulusan ini terus berlangsung mulai Nabi Nuh sebagai rasul pertama hingga rasul terakhir Nabi Muhammad saw. Hal itu seperti tertera dalam ayat 28 Surah Hud. “Tidak meminta harta dari kalian. Saya (Nabi Nuh) tulus menyampaikan. Sesungguhnya ganjaran yang aku harapkan hanya dari Allah, dan aku tak mungkin akan mengusir orang-orang yang beriman padaku, walaupun menurut kalian dia gembel.”

Selanjutnya, dalam ayat 29 Surah Hud dijelaskan, akal dan agama menetapkan bahwa siapa pun orang lain harus dihormati. Pasalnya, hanya Allah yang menilai kedudukan seseorang.

Pada ayat berikutnya, 30-35 Surah Hud, dipaparkan bagaimana Nuh telah memberi peringatan kepada kaumnya. Bahkan, ada beberapa golongan dari kaumnya itu yang ingkar. Mereka meminta agar Nuh membuktikan dengan azab yang dijatuhkan kepada mereka.

Dari kisah nabi yang tertera dalam ayat 25-35 Surah Hud itu, pengalaman bisa dipetik, bahwa jangan memandang rendah orang lain dan bersifat picik. Itu penting agar hidayah serta kebaikan mudah merasuki tiap-tiap pribadi.

Sebabnya, hanya Allah yang bisa menilai kedudukan seseorang itu. Karena Allah menilai berdasarkan pakaian takwa, bukan materi, harta, ataupun kedudukan.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Kamis, 11 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Jangan Teperdaya Kehidupan Dunia

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Qur'an yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


ULASAN Tafsir Al-Misbah kali ini membahas Surah Hud ayat 15-24. Surah ini antara lain menyampaikan peringatan Allah Swt kepada makhluk-Nya agar tidak teperdaya kehidupan duniawi yang kini amat menggoda sehingga melupakan hubungan manusia dengan pencipta dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pada ayat 15-16 dengan tegas Allah Swt mengingatkan manusia, ‘Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat. Itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.’

Ayat ini berbicara tentang pandangan hidup manusia dalam kehidupan duniawi. Bahwa siapa yang menghendaki dunia beserta perhiasannya saja (jabatan dunia, popularitas, harta, rumah, anak-anak, dan kendaraan), jika Tuhan berkehendak, Dia akan memberikan dan menyempurnakannya kendati itu tergantung pada usaha mereka.

Di sini berlaku hukum sebab-akibat pada usaha manusia itu. Ada orang yang sudah berusaha dan bekerja keras, tetapi gagal dalam kehidupan duniawinya. Itu disebabkan orang itu belum menyesuaikan dengan hukum sebab-akibat. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman, tetapi bekerja keras dan menyesuaikannya dengan hukum sebab-akibat, dia akan berhasil.

Namun, untuk orang yang beriman dan percaya pada hari kemudian atau hari akhirat, sebenarnya gerak kehidupannya terbatas. Mereka ini jika mampu dan kaya selalu berzakat dan tidak mau berkorupsi karena keyakinan iman mereka itu. Dia (orang yang beriman) membatasi dirinya dengan nilai-nilai yang diiringi kepercayaan akan adanya hari akhir yang baik

Bagi orang tidak beriman, dia hidup tanpa batasan dengan menghimpun keduniawian yang mengakibatkannya lengah terhadap kewajiban dari perintah Allah Swt.

Karena itu, bagi setiap muslim hendaknya mampu membatasi aktivitas duniawi dengan menggabungkan aktivitas ukhrawi (akhirat) agar amalan-amalan di dunia tidak menjadi sia-sia.

Pada bagian lain, ayat Surah Hud mengupas tentang kebenaran Nabi Muhammad saw. Dengan kepribadiannya yang luar biasa sebagai utusan Tuhan, dia memiliki tiga bukti utama. Pertama, Rasulullah mempunyai kepribadian dan sifat yang baik, bahkan sejak kecil mendapat gelar Al-Amin atau yang dipercaya.
Kedua, beliau mempunyai kitab suci Al-Qur'an sebagai amanat Allah Swt bagi petunjuk jalan kehidupan umat manusia. Ketiga, Nabi Muhammad saw telah disebut-sebut keberadaannya dalam kitab–kitab suci sebelumnya.

Jika dicontohkan ibarat seorang ibu yang sedang sakit akan berobat kepada seorang dokter, sang ibu tentu mesti mengenal dan memercayai kredibilitas dokter yang bersangkutan. Dokter tersebut mesti telah mendapat kepercayaan predikat dokter dari masyarakat sehingga yakin sang dokter tidak akan memberikan obat berupa racun, tetapi obat yang menyembuhkan penyakitnya. Nah, perumpamaan seperti ini mesti kita yakini pada kebenaran Rasulullah saw tersebut.

Kehidupan dunia tidak kekal. Misalnya, banyak orang kaya di dalam kehidupan yang menjadi jatuh miskin dan mereka yang berkuasa dengan jabatan tidak akan lama menduduki kekuasaan. Jadi kita jangan silau terhadap kehidupan dunia, jangan teperdaya. Orang seperti itu mesti disadarkan dengan melihat kenyataan hidup.’

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Rabu, 10 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Meyakini Al-Qur'an sebagai Firman Allah Swt

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Qur'an yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


BULAN Ramadan ialah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Melalui perantaraan Malaikat Jibril, firman Allah Swt berupa wahyu Al-Qur'an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman hidup manusia. Tak hanya itu, Al-Qur'an juga diturunkan sebagai pembeda yang hak dan batil.

Pada edisi ini, Tafsir Al-Misbah mengulas Surah Hud ayat 7-14. Salah satu ayatnya menggambarkan ada resistensi ataupun penolakan umat manusia kepada Nabi Muhammad saw atas firman Allah Swt atau wahyu Al-Qur'an itu.

Disebutkan dalam ayat ke-13 Surah Hud itu, mereka menolak karena seolah-olah Nabi Muhammad saw yang membuat Al-Qur'an. Padahal, sejatinya Al-Qur'an itu langsung diwahyukan oleh Allah Swt.

Karena itu, Allah Swt menantang mereka yang menentang Al-Qur'an yang telah disampaikan rasul-Nya itu dengan pernyataan, “Maka, datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya dan panggil orang yang kamu sanggup (menyamainya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Dari situ bisa digambarkan, pada masa itu, sikap mereka yang menentang Al-Qur'an dengan berbagai alasan akibat kebodohan, kejahilan, keangkuhan dan kesombongan mereka, serta menolak kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw.

Tentu saja penentangan kaum kafi r saat itu menyesakkan dada Rasulullah saw. Sebabnya, selain menentang Al-Qur'an, mereka menginginkan kekayaan dan malaikat untuk diturunkan dari langit ke muka bumi.

Namun, bagi Allah Swt, itu sudah cukup. Allah Swt juga menyatakan bahwa Rasul ialah pemberi peringatan saja bagi mereka yang sangat menentang Al-Qur'an. Sebab, rahmat dan hidayah bagi seseorang yang ingin beriman atau tidak bergantung pada kehendak-Nya.

Ketidaksanggupan para penentang kebenaran Al-Qur'an untuk membuat 10 surat saja sudah menjadi bukti bahwa Al-Qur'an datangnya dari Allah Swt.

Artinya, Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw ke muka bumi ini sebagai pedoman hidup dan tuntunan manusia yang tak lain sebagai ilmu dari Tuhan, Allah Swt.

Seperti ditegaskan pula dalam ayat ke-14 Surah Hud. “Jika mereka yang kamu seru itu tidak mau menerima seruan atau ajakanmu, katakanlah: sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Maka, berserah dirilah kepada Allah saja.”

Lalu pertanyaannya, mengapa manusia diperintahkan oleh Allah Swt untuk berserah diri? Pasalnya, Allah Swt-lah yang menciptakan manusia, bumi, dan langit dalam enam masa atau enam hari.

Bahkan sebagian ulama ada yang menafsirkan bahwa enam hari itu terbagi dalam enam periode. Enam periode tersebut masing-masing dua hari untuk menciptakan langit, dua hari untuk menciptakan bumi, dan dua hari lagi untuk menciptakan sarananya.

Di ujung pembahasan Tafsir Al-Misbah kali ini, umat Islam diajak untuk meyakini bahwa Allah itu ada. Namun, mengenai keberadaannya di mana, kita semua tak harus tahu.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Selasa, 9 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.