Media Indonesia | Sabtu, 21 September 2013 | Garuda Muda Mencuatkan Harapan | Kontroversi Mobil Murah

Media Indonesia | Sabtu, 21 September 2013
Nomor 11848 Tahun XLIV | 28 halaman
Garuda Muda Mencuatkan Harapan -- Sejarah ditorehkan para pemain Indonesia muda di Piala AFF 2013. Untuk kali pertama skuat Garuda Muda sukses melaju ke final turnamen sepak bola antarnegara Asia Tenggara tersebut. Masyarakat kini berharap para pemain Timnas U-19 bisa melewati rintangan terakhir mereka di babak final melawan Vietnam.

EDITORIAL: Kontroversi Mobil Murah -- “KOTA yang maju bukan dilihat dari kondisi bahwa orang miskinnya bisa membeli mobil, melainkan ketika orang kayanya menggunakan transportasi publik,” kata Enrique Penalosa, Wali Kota Bogota 1999-2002. Ungkapan bekas Wali Kota Bogota itu menjadi relevan setelah konsep mobil murah dan ramah lingkungan, atau low cost and green car (LCGC), yang diluncurkan pemerintah berkembang menjadi kontroversi. Tidak kurang dari Wapres Boediono pun ikut mengemukakan pendapat terkait dengan program mobil murah. Dalam kesempatan membuka pameran otomotif terbesar se-Asia Tenggara, Indonesia International Motor Show (IIMS) Ke-21 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (19/9), Wapres mengatakan melarang masyarakat Jakarta membeli mobil bukanlah solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.... Namun, transportasi publik yang aman, nyaman, dan murah harus lebih diutamakan daripada mendorong warga memiliki mobil.

Korban Sinabung Sesalkan Vulkanologi -- Korban Gunung Sinabung (2.460 meter) menyesalkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tidak memberi tahu warga akan terjadinya letusan pada Minggu (15/9). “Penduduk mengetahui letusan Gunung Sinabung ketika terjadinya peristiwa itu,” kata Usaha Sitepu, warga yang mengungsi di posko Bencana Gunung Sinabung di Kabanjahe, kemarin. Sitepu ialah warga Desa Sukanalu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.



Tafsir Al-Mishbah: Toleransi untuk Menghindari Perpecahan

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


PEMBAHASAN Tafsir Al-Misbah kali ini dimulai dengan Surah Hud ayat 116. Ayat itu berbunyi, “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu, orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi dan melanggengkan kebaikan, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka. Orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka ialah orang-orang yang berdosa (para pendurhaka).”
Makna ayat tersebut ialah Allah menyayangkan bahwa umat-umat sebelumnya tidak ada yang memiliki amal kebaikan yang langgeng hingga hari kiamat.
Ayat tersebut menyiratkan tentang mana yang lebih baik, Anda mencegah kejahatan atau berbuat kebaikan. Tentu saja berbuat keduanya lebih baik, tetapi yang paling dulu ialah mencegah kejahatan. Jika yang buruk telah dicegah, dunia ini pasti akan lebih baik.
Allah mempunyai kebiasaan dalam menghadapi umat manusia. Yang pertama, Allah meruntuhkan masyarakat itu dan biasanya jika mereka telah tenggelam dalam kemewahan duniawi serta gaya hidup berfoya-foya. Kebiasaan Allah tersebut disiratkan ayat 117, yang berbunyi, “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Perbedaan
Kemudian Allah menjelaskan pada ayat 118, “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang menyatu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”
Perbedaan itu Allah ciptakan sebagai suatu keniscayaan supaya manusia bisa mengembangkan toleransi. Inilah pilihan kita sebagai manusia, mau memilih perpecahan atau toleransi yang menenteramkan.
Pada ayat 119 disebutkan, “Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”
Ayat tersebut menyatakan bahwa orang-orang yang bisa memaknai perbedaan dengan toleransi dan harmonisasi merupakan orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah, dan untuk memberi rahmat itulah Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Sebaliknya, mereka yang durhaka akan memenuhi neraka jahanam.
Allah melalui ayat 120 menyebutkan, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”
Di sisi lain, ayat 121 berisi, “Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya Kami pun berbuat (pula).”
Pada ayat 122 tercantum pernyataan, “Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).”
Terakhir, ayat 123 menyatakan, “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”
Awal Surah Hud ini memerintahkan manusia untuk beribadah, dan akhirnya memerintahkan kita juga untuk beribadah serta mengamalkan nilai-nilai dalam agama. Salah satunya berani mencegah kejahatan, menjunjung tinggi toleransi, dan senantiasa menghindarkan perpecahan.
Allah memberitahukan kepada manusia bahwa inti kehadiran kita di dunia ialah untuk beribadah kepada-Nya dalam arti yang amat luas dan berbuat kebaikan di muka bumi.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Sabtu, 20 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Harian Detik Minggu | 21 Juli 2013 | Harian Detik Edisi Terakhir | Arturo Cerulli Wali Kota Muslim di Italia | Gardu Listrik Jadi Bilik Asmara

Harian Detik Minggu | 21 Juli 2013
Edisi Nomor 957/Tahun ke-2
Sebuah berita duka. Tak dinyana Harian Detik edisi Minggu, 21 Juli 2013 lalu ternyata menjadi edisi terakhir harian digital keluaran Detikcom ini. Dua hari sebelumnya pada Harian Detik edisi 19 Juli 2013 memang redaktur harian tersebut sudah mengucapkan "selamat tinggal" kepada khalayak. Manajemen Detikcom menyatakan bahwa koran digital yang terbit kali pertama pada 15 Desember 2011, bersamaan dengan hari jadi induknya, TransCorp (kini TransMedia), akhirnya mesti undur diri sejenak. Karena itu, jangan heran jika Anda membuka situs http://harian.detik.com/, yang muncul justru kotak pemberitahuan ini:


Tentu saja banyak yang merasa kehilangan terhadap media digital dengan tampilan visual apik ini. Mudah-mudahan “parkir”-nya Harian Detik hanya untuk sementara. Saya masih menaruh harapan koran digital ini akan kembali hadir dengan semangat baru. Kita tunggu.

By the way, edisi terakhir ini tetap menyuguhkan liputan-liputan menarik. Sampul Harian Detik Minggu dihiasi foto Arturo Cerulli yang memang mengisi rubrik Empat Mata di halaman 14. Sosok ini adalah seorang wali kota di negeri Italia. Yang paling menarik dari sosok Arturo adalah soal keislamannya. Sebagai Muslim, dia baru dua bulan lalu terpilih kembali untuk lima tahun berikutnya sebagai wali kota di negeri mayoritas Katolik tersebut. Dia mengaku agama Islam yang dianutnya pernah menjadi bulan-bulanan lawan-lawan politiknya saat berkampanye. Namun, Arturo berhasil meyakinkan bahwa dia semata ingin mengabdi pada kota kelahiran dan warganya. “Saat itu orang-orang menganggap saya ingin menghancurkan bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang (kampanye negatif) sudah selesai,” ujarnya saat berbincang dengan Astrid Septriana dan Arif Arianto dari Detik.

Adapun halaman Fokus mengusung judul "Bila Gardu Listrik Jadi Bilik Asmara". Halaman ini mengetengahkan soal pemerintah yang hingga kini masih terus mengkaji kemungkinan menyediakan bilik asmara bagi para narapidana. Namun, sebagian oknum narapidana bisa menyalurkan hasrat dengan beragam cara, sesuai dengan isi kocek mereka. Yang kantongnya pas-pasan, menurut kesaksian seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Salemba, memanfaatkan gardu listrik sebagai bilik asmara. []

Tafsir Al-Mishbah: Tetap Istikamah dan Berbuat Baik

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


PEMBAHASAN Tafsir Al-Mishbah kali ini masih mengulas Surah Hud yakni ayat 110-116. Intinya, Surah Hud berbicara soal bukti kebenaran Al-Quran. Sebabnya, pada masa diturunkannya kepada Nabi Muhammad, Al-Quran selalu mendapat tentangan keras dari masyarakat kafir Quraisy.
Itu juga berlaku pada nabi sebelumnya yang juga diberi kitab sebagai tuntunan hidup oleh Allah. Mereka juga mengalami tantangan serupa.
Seperti tertuang pada ayat 110 Surah Hud yakni "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Nabi Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya, tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka (hingga hari kiamat). Dan, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap Al-Quran".
Ayat 111, Allah berkata kepada Nabi Muhammad, "Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) di hari kemudian pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan".
Kemudian, pada ayat 112, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan(juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan".
Pada ayat itu, Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad untuk istikamah dan tetap memegang teguh akidah, atau tetap melaksanakan ajaran Allah. Tetap salat, zakat, puasa, dan amalan baik lainnya yang diamanatkan Al-Quran. Amanat itu pun berlaku bagi semua umat Islam.
Ayat selanjutnya, 113, 114, dan 115 pun menegaskan itu. Mereka yang tetap istikamah dan juga berbuat kebaikan, segala dosa-dosanya bakal dihapuskan kelak.

Mencegah Kerusakan
Selain pentingnya istikamah, Surah Hud mengutamakan pentingnya menjaga lingkungan. Seperti pada ayat 116, "Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa".

Ayat terakhir itu jelas menyatakan orang-orang yang diselamatkan Allah, yakni orang yang mencegah terjadinya kerusakan di muka bumi. Artinya, sebagai Muslim, selain percaya dan berpegang teguh pada ajaran Allah, kita juga tidak melakukan kerusakan di muka bumi.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Jumat, 19 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Mendalami Agama dan Bersikap Bijaksana

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


PEMBAHASAN Tafsir Al-Mishbah kali ini tentang kiamat. Salah satu bagian Al-Quran yang memerinci tentang hari kiamat ialah Surah Hud mulai dari ayat 103, yang tertera, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadap)-Nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).”
Pada ayat 104 disebutkan, “Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.”
Dua ayat itu menyebutkan sudah ditetapkan hari saat manusia dihimpun untuk dihitung amalannya selama di dunia dan hal itu benar-benar akan terjadi.
Ayat selanjutnya, yakni 105, menjelaskan apa yang terjadi di hari kiamat, “Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.”
Salah satu yang perlu digarisbawahi, pada hari kiamat semua terlihat. Ada yang sengsara karena amalan buruk dan ada yang berbahagia karena amalan baik.
Ayat 106 berbunyi, “Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih).” Dilanjutkan dengan ayat 107, “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
Ayat tersebut menjelaskan keadaan bisa berubah berkat ketentuan Allah. Artinya, sebagai Yang Mahakuasa, Allah menepati ancaman dan janjinya kepada umat manusia, tetapi bisa juga memiliki ketentuan yang lain selain itu karena sifatnya yang menetapkan sesuatu atas dirinya. Namun, Allah sendiri tidak terikat dengan itu.

Rahmat Allah Swt
Pada ayat 108 berbunyi, “Adapun orang-orang yang dibahagiakan maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Merujuk pada ayat tersebut, suatu ketika Nabi Muhammad saw pernah berkata, “Tidak ada yang masuk surga karena amalnya, engkau pun tidak, saya pun tidak, kecuali kalau saya dapat rahmat dari Allah.”
Ayat 109 berbunyi, “Maka itu (Muhammad) janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu (berhala-berhala). Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun.”
Ayat tersebut menyiratkan semua agama memiliki kepercayaan yang berbeda. Namun, siapa yang benar? Kita boleh berkata Islam yang benar menurut keyakinan saya, tetapi yang bisa memutuskan hanya Allah di hari kiamat.
Jadi, sesungguhnya kita tidak perlu mempertengkarkan perbedaan keyakinan. Karena sejak dulu Allah menciptakan perbedaan dalam hal beragama di dunia.
Karena itu, tidak usah berkata kepada nonmuslim bahwa kamu salah lantas masuk neraka. Yang berhak memutuskan hanya Allah. Akan tetapi, kita harus yakin pada diri kita bahwa agama kita benar berpegang pada Al-Quran dan hadits.
Ayat-ayat tentang hari kiamat itu menyiratkan suatu pelajaran berharga bahwa Islam mengajarkan untuk mendalami agama, tetapi sekaligus bijaksana dalam bersikap. Sebabnya, perbedaan merupakan keniscayaan dan hanya Allah yang berhak menentukan di hari kemudian.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Kamis, 18 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Menuruti Hawa Nafsu Sama dengan Aniaya

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


EPISODE Tafsir Al-Mishbah masih membahas Al-Quran Surah Hud. Kali ini ulasan berlanjut pada kisah Nabi Musa yakni dimulai pada ayat 96.
Nabi Musa dibesarkan di istana firaun. Firaun sendiri merupakan gelar-gelar bagi pemimpin tertinggi masa itu dan bukanlah sebuah nama, sama seperti presiden di Indonesia atau sultan di Brunei Darussalam. Jadi, namanya bisa siapa saja yang saat itu menjabat.
Pada ayat 96 Surah Hud tertera, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan/ajaran) Kami, dan mukjizat (wibawa atau karisma) yang nyata."
Selanjutnya, ayat 97, "Kepada firaun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Firaun, padahal perintah Firaun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar."
Ada rumus di kalangan beberapa ulama, jika Anda mendengar suatu kisah mengenai Al-Quran serta tidak disebut nama pelaku kisah itu, ketahuilah bahwa kisah itu bisa terjadi kembali. Kebetulan, dalam kisah ini tidak disebut nama jelas firaun itu siapa. Dengan demikian, hingga hari kiamat nanti sangat mungkin bermunculan kembali firaun serupa kisah Nabi Musa ini.
Namun, Allah menegaskan, para pengikut firaun itu nantinya bakal masuk ke neraka, sebagaimana ayat 98 jelaskan. "Ia (firaun) berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
Itu karena mereka menganggap fi raun sebagai pemimpin bangsa. Padahal, pribadi firaun sendiri buruk, dengan ia mengaku Tuhan, juga karena dia tidak mempertimbangkan kebutuhan masyarakat umum, dengan menindas kaum Bani Israil untuk memenuhi kebutuhan bangsanya.

Hari Kemudian
Selanjutnya pada ayat 100-101 Surah Hud itu diceritakan bahwa akhirnya firaun binasa bersama dengan kaumnya pada masa itu. Namun, Allah masih menyisakan sisa-sisa negeri firaun yang telah musnah itu. Seperti disebutkan dalam ayat 100, "Itu adalah sebagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah."

Kemudian dijelaskan juga pada ayat 101, "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Karena itu tiada bermanfaat sedikit pun pada mereka, sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka."
Ayat itu menjelaskan, apa-apa yang datang dari Allah pasti baik. Kalau ada yang tidak baik, itu dari hasil usaha manusia sendiri. Karena Allah tidak zalim ataupun aniaya.
Dengan mengutus para nabi, Allah telah memberikan jalan kepada manusia menuju kebaikan. Tetapi, manusia sendiri yang kerap lebih memilih hawa nafsunya untuk berbuat aniaya terhadap diri sendiri dengan mengingkari kebenaran dan ajaran kehidupan yang dibawa para nabi.
Pada bahasan ayat terakhir, 102, bahkan ditegaskan, agar umat Muhammad dan umat setelah Nabi Muhammad wafat mengambil hikmah dari kisah itu, serta senantiasa mengingat adanya hari kemudian selain dunia. Maka itu perlu menjaga sikap dalam kehidupan.
Dari penggalan ayat 96-102 Surah Hud, kita bisa petik manfaatnya bahwa menuruti hawa nafsu di dunia tiada artinya. Sebab, itu tak akan menjadi penolong kita di hari kemudian dan justru malah menganiaya kita.
Untuk itu, selalu berpegang kepada ajaran Allah yang diturunkan melalui para nabi. Selain itu, untuk berbuat kepada orang lain kita juga harus memperhatikan caranya, tak seperti yang dilakukan firaun pada kaumnya, yakni menjerumuskan mereka dalam kesesatan.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Rabu, 17 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.

Tafsir Al-Mishbah: Carilah Rezeki yang Halal di Jalan Allah

Tafsir Al-Mishbah adalah kolom tafsir Al-Quran yang diasuh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A.
dan hadir di sisipan laporan Ramadhan harian umum Media Indonesia.


TAFSIR Al-Mishbah kali ini mengupas ayat 84-95 Surah Hud. Ulasan diawali dialog Nabi Syuaib as dengan kaumnya dalam mengabarkan perintah Allah agar bersikap adil dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Kisah itu terdapat dalam Surah Hud ayat 84.
Ayat yang menceritakan Nabi Syuaib tersebut berbunyi, “Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)’.”
Setiap Nabi memberikan dakwah yang berbeda-beda kepada umat masing-masing. Nabi Syuaib dalam hal ini meminta agar umatnya, kaum Madyan, menyempurnakan timbangan jual beli. Sebabnya, bangsa pedagang itu ternyata sering curang dalam berbisnis.
Nabi Syuaib di sini mengkritik keras kaum Madyan yang sebenarnya telah berkecukupan, tapi masih saja berbuat kecurangan. Sudah senang, sudah kaya, tetapi masih korupsi.
Ayat lanjutannya, yakni ayat 86, berbunyi: “Sisa (keuntungan) dari Allah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.”
Ayat itu menyimpan makna lainnya, agar kaum Madyan berlaku adil dan menyempurnakan takaran sehingga kedua pihak (penjual dan pembeli) menjadi senang.
Hal itu juga bisa diartikan bahwa menjaga hubungan harmonis ketimbang mengambil untung banyak lebih disenangi Allah dan lebih menguntungkan bagi pelakunya. Jangan hanya melakukan kegiatan yang mengambil untung banyak tapi terputus-putus, tetapi lebih baik satu kegiatan yang sedikit tapi berkesinambungan.
Kemudian kala menjawab ajakan Nabi Syuaib, seperti dijelaskan pada ayat 87, kaum Madyan menjawab, “Mereka berkata: Hai Syuaib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami? Sesungguhnya kamu orang yang amat penyantun lagi berakal.”
Jika dimaknai dalam kehidupan sehari-hari, intinya ayat itu menyatakan umat Nabi Syuaib ingin menerapkan perdagangan bebas sesuka mereka tanpa memperhatikan nilai ekonomi. Padahal, Allah menetapkan nilai ekonomi bahwa harta benda kita tidak boleh dipakai untuk bermaksiat. Kita juga tidak boleh mendapatkan harta dari hasil mengeksploitasi orang lain.

Diberi Azab
Namun pada ayat selanjutnya, ayat 88-93, kaum Madyan malah menentang Nabi Syuaib. Mereka mengingkari ajakan Nabi Syuaib untuk menyembah Allah dan berbuat kebaikan, seperti berlaku adil dan berbisnis dengan baik.

Dua ayat selanjutnya, 94-95 Surah Hud, menceritakan bagaimana kaum Nabi Syuaib dibinasakan oleh Allah Swt. “Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dalam rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumah mereka.”
Dari situ kita bisa mengambil hikmah bahwasanya rezeki semua makhluk di dunia telah ditanggung Allah Swt. Kita tidak boleh meragukan hal itu, dan dengan keyakinan jaminan Allah, kita hendaknya semakin bersemangat mencari harta yang halal dan juga baik serta rajin menyedekahkan di jalan Allah.

Sumber: Rahmat Semesta Alam | Media Indonesia | Selasa, 16 Juli 2013
*dengan penyuntingan seperlunya.